Jumat, Juni 20

Broke in me





Ketika sampai dirumah, aku tertegun. Dengan rambut tergerai aku duduk mematung, mataku menatap ke arah cangkir tepat didepanku. Aku meraih sebatang rokok serta koreknya, ku nyalakan dan ku sesap dalam-dalam. Mataku tiba-tiba mengeluarkan cairan hangat membasahi pipi menghitam bekas lunturnya eyeliner.

Seandainya aku bisa membaca pikiranmu, mungkin aku sudah tau apa yang harus aku lakukan saat ini

Aku menyeka dengan tisue air mataku, aku berlari dan mengambil kunci mobil di dalam kamar, seperti biasa aku selalu menghampiri apartemen yang kau singgahi tanpa riasan diwajahku dengan mata (sedikit) sembab. Kau bahkan pernah meminta aku untuk tinggal di apartemen bersamamu, namun aku tetap memilih tinggal dirumah, walau hanya sendiri.  Setibanya di depan kamar apartemen, kau selalu menyambutku dengan ciuman bibir, tanganmu mulai menyusup kedalam kaos yang ku pakai lalu aku melepaskan ciuman itu.

"Kamu kenapa?" tanyamu dengan membelai pipiku lembut

"Aku hanya sebentar disini, aku ingin mengantar makanan ini untukmu, karena aku tau tak ada lagi yang mengurusmu selain aku"

"Kamu mau kemana" tanyanya sambil memelukku

"Bukan urusanmu aku mau kemana, aku sedang malas berdebat denganmu"

Aku mencoba melepaskan pelukannya, tapi tetap ditahannya dengan sangat erat. Menyebalkan memang mencintai orang yang menyebalkan.

"Aku akan kembali lagi, aku hanya ingin bertemu temanku sebentar"

Lalu ia melepaskan pelukannya, dan dengan langkah tergontai aku meninggalkan apartemen itu. Tanpa sadar, mobilku melaju dengan kecepatan 100km/jam. Aku hampir saja mengantarkan nyawaku bertemu Tuhan.
Sesampai di cafe, aku telah ditunggu perempuan cantik, perempuan itu bernama Naila. Aku duduk disebelah Naila. Kali kedua aku bertemu dengan perempuan ini, lalu tanpa basa-basi aku mengajaknya masuk kedalam mobilku. Didalam mobil ia hanya menangis, aku dengan menahan air mataku mencoba menghiburnya. Betapa malangnya nasib perempuan cantik ini. Aku kembali ke apartemen. Setalah membuka pintu, betapa kagetnya lelaki yg ada didepanku melihatku membawa naila dihadapannya. Aku membawa naila masuk. Dengan mencoba menahan air mata, aku mulai berbicara dengan nada setengah menangis.

"Kenapa dulu kamu meninggalkan Naila, tepat ketika dia sedang mengandung anakmu?"

...

1 komentar:

  1. hahahaha ,
    bagus bagus , semangat ngeblog terus ya anak muda :D

    BalasHapus